Pengertian Platyhelmintes, Ciri-Ciri, Reproduksi, Siklus, Klasifikasi & Peranan

0
11
loading...

Learniseasy.com – Pengertian Platyhelmintes, Ciri-Ciri, Reproduksi, Klasifikasi & Peranan. Kalian pasti sedang mempelajari tentang apa itu cacing platyhelmintes dan ciri ciri cacing platyhelmintes serta bagaimana reproduksi dan peranan serta manfaat cacing platyhelmintes ini.

Pengertian Cacing Platyhelmintes

Apa itu cacing platyhelmintes? Pengertian platyhelmintes atau cacing pipih adalah filum cacing yang bersifat parasit dan tripoblastik aselomata dan memiliki tubuh yang pipih atau flat.

Hingga sekarang ini diketahui terdapat 18.500 spesies cacing platyhelmintes.

Struktur dan Fungsi Tubuh Platyhelmintes (Cacing Pipih).

Platyhelmintes memiliki 3 sistem organ dalam tubuhnya yaitu (1) Sistem pencernaan, (2) Sistem saraf, dan (3) Sistem Reproduksi dan juga indera sebagai pendukung.

(1) Sistem pencernaan Platyhelmintes : Cacing pipih memiliki sistem pencernaan gastrovaskuler artinya makanan yang telah dicerna oleh cacing pipih tidak diedarkan melalui pembuluh darah melainkan melalui usus.

Sistem pencernaan platyhelmintes (cacing pipih) bermula pada mulut, faring kemudian ke kerongkongan. Setelah kerongkongan terdapat usus yang bercabang ke seluruh tubuh dan menghantarkan nutrisi ke bagian bagian tubuh cacing pipih.

Morfologi dan Anatomi Cacing Fasciola hepatica
Morfologi dan Anatomi Cacing Fasciola hepatica

(2) Sistem Saraf Platyhelmintes : Cacing pipih memiliki sistem saraf yaitu

  1. Sistem saraf tangga tali merupakan sistem saraf yang paling sederhana. Pada sistem tersebut, pusat susunan saraf disebut dengan ganglion otak terdapat pada bagian kepala dan jumlah sepasang. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang.
  2. Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya, sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak), sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor, dan sel asosiasi (perantara).

(3) Indera Platyhelmintes : Cacing pipih atau platyhelmintes memiliki alat deteksi sekitar atau indera yaitu oseli. Apa itu oseli? Oseli merupakan bintik mata yang mengandung pigmen yang peka terhadap cahaya.

Akan tetapi kepekaan tersebut jangan dianggap sebagai alat visual yah, karena itu untuk mendeteksi apakah ada cahaya atau tidak, karena tubuh platyhelmintes sangat rentang terhadap kekeringan.

Oseli atau pigmen mata cacing pipih terletak sepasang dan dibagian anterior cacing pipih.

Selain oseli atau pigmen mata, cacing pipih juga mempunyai indera peraba dan sel kemoreseptor diseluruh bagian tubuhnya. Bahkan untuk sebagian spesies cacing pipih, ada yang mempunyai indera tambahan seperti aurikula (sejenis telinga), reoreseptor (mengetahui arah aliran air) serta statosista (pengatur keseimbangan tubuh cacing pipih).

(4) Sistem Regulasi / Ekskresi Platyhelmintens (Cacing pipih) : Sistem regulasi disebut osmoregulasi. Cacing pipih menggunakan saluran pengeluaran disebut protonefridiofor yang hadir sepasang atau lebih. Sistem osmoregulasi secara keseluruhan disebut protonefridia. Sisa metabolisme tubuh cacing pipih dikeluarkan dengan difusi pada dinding sel tubuh cacing pipih.

(5) Sistem Reproduksi Platyhelmintes  (Cacing pipih) : Kalian mungkin sudah pernah dengar kalau cacing pipih memiliki sifat hermaprodit. Itu artinya dalam satu tubuh terdapat kelamin jantan dan kelamin betina.

Walaupun seperti itu, mereka tidak bisa membuahi diri sendiri. Ada juga cacing pipih yang mampu menghasilkan individu baru tanpa perkawinan. Pembuahan pada cacing sendiri terjadi di dalam tubuh cacing pipih.

Struktur tubuh cacing pipih platyhelmintes
Struktur tubuh cacing pipih platyhelmintes

Ciri-Ciri Platyhelmintes (Cacing Pipih)

Untuk mempelajari dengan baik tentang platyhelmintes kalian perlu mengetahui ciri ciri fisik atau karakteristik umum dari cacing pipih Platyhelmintes itu sendiri secara tekstual. Berikut beberapa ciri ciri platyhelmintes (cacing pipih ) tersebut:

  1. Mempunyai bentuk tubuh pipih, simetris dan tidak bersegmen
  2. Ukuran tubuh ada yang mikroskopis (kecil sekali) dan ada juga yang mencapai panjang hingga 20 cm, contohnya cacing pita
  3. Tidak memiliki dubur atau lubang pengeluaran kotoran (feses). Dengan kata lain hanya memiliki satu lubang yaitu mulut.
  4. Kemampuan penyembuhan diri atau regenerasi sangat tinggi dan bersifat hermafrodite.
  5. Mayoritas hidup parasit, hanya sebagian kecil yang hidup bebas.
  6. Habitat di air tawar, air laut, tempat lembab, atau dalam tubuh organisme lain.
  7. Memiliki kemampuan reproduksi secara generatif (perkawinan) dan juga vegetatif (pembelahan diri).
  8. Cukup sensitif dengan cahaya bahkan merusak bagi mereka
  9. Cacing pipih tidak mempunyai sistem pernapasan. Cacing pipih menggunakan pori-pori sebagai tempat masuknya oksigen. Masuknya oksigen ke pori-pori dengan cara difusi.
  10. Cacing pipih tidak memiliki sistem pencernaan lengkap. Pencernaan platyhelmintes (cacing pipi) melalui rongga gastrovaskular.
  11. Platyhelminthes (cacing pipih) bersifat triploblastik (memiliki tiga lapisan embrional), yaitu epidermis (lapisan luar), mesodermis (lapisan tengah), dan endodermis (lapisan dalam).
  12. Cacing pipih tidak mempunyai rongga sejati, namun memiliki simetri bilateral
  13. Mempunyai sistem saraf tanggal tali dan memiliki mata primordial (oseli)
  14. Platyhelminthes (cacing pipih) tidak mempunyai pembuluh darah. Sehingga rongga gastrovaskular beperan mendistribusikan nutrisi ke seluruh tubuh.

Klasifikasi Platyhelmintes (Cacing Pipih)

Pada awal awal klasifikasi platyhelmintens (cacing pipih), terbagi atas 4 grup besar yaitu turbellaria, trematoda, monogenea dan cestoda. Akan tetapi, setelah beberapa saat, klasifikasi tersebut diperbaiki dengan standar filogenetik.

Klasifikasi terbaru tersebut membuat Turbellaria terbagi menjadi banyak ordo sedangkan trematoda, monogenea dan cestoda digabung menjadi satu ordo yaitu “Neodermata”. Akan tetapi penggunaan klasifikasi lama masih sering digunakan dalam dunia keilmuwan.

Jenis Jenis Cacing Platyhelmintes
Jenis Jenis Cacing Platyhelmintes

(1) Turbellaria (Cacing Rambut Getar)

Kelas turbellaria adalah bagian dari Platyhelmintes (cacing pipih) yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya serta memiliki alat sensoris pada bulu getar tersebut. 

Kelompok cacing platyhelmintes ini dikenal dengan kemampuan regenerasi yang sangat tinggi.

Mayoritas spesies turbellaria hidup sebagai pemangsa, scavenger, nokturnal, dan juga ada yang bersimbiosis.Hanya sedikit yang menjadi parasit.

Anggota dari Turbellaria adalah Planaria, Microstomum caudatum, Pseudobiceros bedfordi.

Cacing turbellaria memperbanyak diri dengan reproduksi generatif (perkawinan) dan juga ada yang melakukan pembentukan tunas.

(2) Trematoda (Cacing Isap)

Cacing trematoda merupakan kelas dari platyhelmintes yang terspesialiasi memiliki alat hisap dan pengait pada inangnya. Oleh karena itu seluruh spesies cacing trematoda merupakan cacing parasit pada manusia dan hewan.

Kulit dari seluruh spesies cacing trematoda tersusun atas syncitium atau lapisan sel yang memiliki satu membran eksternal saja. Trematoda menurut klafikasi terbaru terbagi menjadi dua grup yaitu, Digenea dan Aspidogastrea.

Contoh Cacing Trematoda adalah fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma. Pada Cacing Trematoda dewasa hidup dalam usus, hati, ginjal, paru-paru dan pembuluh darah vertebrata.

(3) Cestoda (Cacing Pita)

Cacing pita atau kelas Cestoda adalah bagian dari cacing pipih yang hidup parasit dalam usus inang. Kemampuan cacing  cestoda ini karena kulitnya yang terspesialisasi dilapisi dengan kitin sehingga mampu menahan enzim di usus inang.

Cacing pipih pita Taenia solium dan T. saginata adalah cacing yang hidup parasit pada dua hewan yang berbeda dan kemudian masuk ke dalam tubuh manusia.

D. Siklus Hidup/Daur Hidup Platyhelmintes (Cacing Pipih) 

1. Fasciola hepatica (Cacing hisap Trematoda)

Telur (bersama feces) > larva bersilia (mirasidium) > siput air (lymnea auricularis atau lymnea javanica) > sporokista > redia > serkaria > keluar dari tubuh siput > menempel pada rumput/tanaman air > membentuk kista (metaserkaria) > dimakan domba (hepatica)/sapi(gigancatia) > usus > hati > sampai dewasa

Siklus hidup cacing pipih Fasciola Hepatica
Siklus hidup cacing pipih Fasciola Hepatica

2. Chlornosis sinensis (Cacing pipih Hisap Trematoda)

Telur (bersama feces) > mirasium > siput air > sporosista >menghasilkan redia > menghasilkan serkaria > keluar dari tubuh siput > ikan air tawar (menempel di ototnya) > membentuk kista (metaserkaria) > ikan dimakan > saluran pencernaan > hati > sampai dewasa

Siklus hidup cacing trematoda cacing pipih hisap Chlornosis sinensis
Siklus hidup cacing trematoda cacing pipih hisap Chlornosis sinensis

3. Schistosoma javanicum

Telur ( bersama feces > mirasidium > siput air > sporosista > menghasilkan redia > menghasilkan serkaria > keluar dari tubuh siput > menembus kulit manusia > pembuluh darah vena.

4. Taenia saginata/taenia solium

Proglotid (bersama feces) > mencemari makanan babi > babi > usus babi (telur menetas jadi hexacan) > aliran darah > otot/daging (sistiserkus) > manusia > usus manusia (sistiserkus pecah > skolex menempel di dinding usus) > sampai dewasa di manusia > keluar bersama feces.

Siklus hidup cacing pipih taenia saginata dan taenia solium

Peranan Platyhelmintes (Cacing Pipih)

Hampir seluruh hewan platyhelmintes berbahaya dan merugikan manusia. Akan tetapi untuk ekologi, cacing pipih platyhelmintes memiliki peran penting untuk mempertahankan keberlangsungan lingkungan.

Dalam sains, peranan platyhelmintens khususnya pada kelas Turbelarria sering sekali dijadikan sebagai model dalam mempelajari sumbu tubuh organisme dan regenerasi sel.

Usaha-Usaha Mencegah Infeksi Platyhelmintes (Cacing Pipih)

Kalian sudah sadar bukan untuk menghidari cacing pipih dari tubuh kalian dan jangkauan tangan kalian. Berikut beberapa tips dalam menghindari infeksi cacing pipih platyhelmintes:

  1. Daur hidup cacing diputuskan (perhatikan bagian siklus hidup diatas).
  2. Mencegah diri dalam mendekati infeksi larva cacing (Baca siklus diatas)
  3. Tidak membuang tinja sembarangan dan membuat tinja secara teratur (sesuai dengan syarat-syarat hidup sehat)
  4. Tidak memakan daging mentah atau setengah matang (masak daging sampai matang).

Demikianlah artikel tentang Pengertian cacing platyhelmintes, ciri ciri cacing platyhelmintes, klasifikasi cacing platyhelmintes, peranan serta reproduksi dan siklus hidup cacing. Tetap belajar karena belajar itu mudah.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here